IBX5A050201A869C

Jumat, 01 Desember 2017

Hindarkan si Buah Hati Dari Trauma



Hindarkan si Buah Hati Dari Trauma

“Peristiwa traumatis bisa membekas ke hati anak-anak hingga dewasa. Bagaimana mengaturnya agar jangan sampai terjadi?”
Sepasang suami-istri sedang serius berunding. Keduanya baru saja mendengar keputusan dokter yang mereka kunjungi mengenai Dini, putri sulung mereka. Setelah membaca hasil tes darah yang dilakukan di laboratorium medis dua hari yang lalu, dokter menyatakan Dini positif terserang tifus dan harus opname di rumah sakit.


Kedua orang tua ini bingung. Bagaimana harus memberi pengetian kepada Dini agar mau beristirahat di rumah sakit. Pasalnya, anak yang belum genap 6 tahun ini sejak lama memang anti dengan rumah sakit. Ia sangat takut jika diajak pergi ke dokter. Sekedar disuruh buka mulut saja ia sudah berontak. Semakin dipaksa ia akan semakin kuat memberontak. Untuk bisa memeriksa dadanya, dokter dan ibunya harus memegangi kaki dan tangannya agar tidak bergerak gerak. Orang tuanya sempat kebingungan ketika suatu saat dokter meminta dini untuk tes darah demi memastikan penyakit apa yang di deritanya. Lantas apa reaksi Dini saat melihat jarum suntik? Mereka hampir tidak bisa membayangkan seperti apa reaksi anak itu nanti.


Apa yang anda lakukan jika anda berperang menjadi orang tua Dini? Tentu tak ada orang tua yang tak ingin anaknya cepat sembuh dari sakit. Bila proses penyembuhan harus melalui pengambilan darah, rontgen, opname bahkan operasi sekalipun,  apakah kita hendak mengelak? Bukankah ketakutan anak itu sebenarnya tak perlu? Atau anda merasa sama sekali tak masuk akal?
Bukankah bagaimanapun juga kesehatan harus lebih diutamakan daripada menuruti ketakutan ketakutan itu? Lantas, akankah anda mengambil keputusan untuk memaksa anak menerima proses penyembuhan yang harus dijalani? Bukankah ketegangan ketegangan yang akan terjadi akibat kerewelan anak, akhirnya juga akan berhenti?.


Jika anda termasuk orang tua yang menyetujui pendapat ini, mari kita coba mengkajinya lebih dalam lagi. Memang benar bahwa sebenarnya ketakutan anak anak itu tidak perlu ada. Namun, kalau toh mereka takut terhadap jarum suntik, terhadap rasa pahitnya obat, terhadap mesin mesin pengobatan yang aneh aneh, semuanya ini belum tentu kesalahan mereka semata, mungkin cara didik orang tua yang salah. Mungkin juga pengaruh lingkungan yang menyebabkan mereka seperti itu. Atau bisa jadi anak pernah mengalami peristiwa tak terduga yang traumatis.
Karena semuanya belum tentu kesalahan si anak, orang tua perlu lebih bisa memberikan pengertian dan pemahaman yang benar. Orang tua perlu mengerti cara berfikir anak. Cara nalar dan reaksi spontan mereka. Jangan samakan cara berpikir mereka dengan orang dewasa. Kenapa? Karena dunia anak anak memiliki ciri khas tersendiri. Apabila Dini sejak awal sudah dihinggapi rasa ketakutan kepada segala yang berbau pengobatan, semestinya orang tua mau mengerti dan memahami, serta selanjutnya mencari jalan keluar untuk menghilangkan atau memperingan ketakutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar